 | ciput wrote on Nov 28, '06 makasih Mba... Ayo isi petisinya ya temans.... |
 | wehaz wrote on Nov 28, '06 oke boss......  meluncur sana! :) |
 | wehaz wrote on Nov 28, '06 makasih Mba... Ayo isi petisinya ya temans....  sami-sami.. :) |
 | almato wrote on Nov 28, '06, edited on Nov 28, '06 Lucu. Tayangan yg sudah jelas2 diperuntukkan untuk orang dewasa dan diumumkan peringatan berbahaya bagi orang2 yg berusaha menirukannya, begitu ada korban anak kecil yg lolos dari pengawasan orang tua mereka... Yang disalahkan televisinya.
Tayangan sepasang kekasih yg sedang sayang-sayangan dan berciuman, yg diperuntukkan untuk orang dewasa pada jam tayang untuk orang dewasa, begitu ada kasus remaja ber-video porno ria yg lolos dari pengawasan orang tua mereka... Yang disalahkan televisinya.
Tapi kalo tayangan suami pukul istri, ibu tiri pukul anak tiri, cowo pukul-pukulan rebutan cewe di berbagai sinetron kita, tidak ada yg menyalahkan televisi kita begitu ada kasus selebriti kita saling pukul-pukulan...
Orang Indonesia memang lucu... |
 | aku udah ngisi lho mbak... :) |
 | ciput wrote on Nov 28, '06 Orang Indonesia memang lucu... ----------------------------------------------- punya anak Mas? Kalo punya, Anda orang tua yg lucu :p |
 | wehaz wrote on Nov 28, '06 Orang Indonesia memang lucu...  hehehee... kalau sudah begini, rasanya yang lucu bukan cuma orang Indonesia dong:)
saya pikir petisi ini sederhana saja. berawal dari keprihatinan orangtua. Berpikir bagaimana bila itu semua terjadi pada anak sendiri. Dan si pelaku dengan santainya menyebut acara TV tertentu sebagai alasan. Secara jujur komunikasi visual itu bisa berpengaruh pada anak2, baiknya ada regulasi yg jelas. Sama sekali tidak melempar bola kesalahan ke televisinya. Bukan juga membuat pembenaran bahwa orangtua tidak boleh disebut sebagai pihak yang tidak bertanggungjawab. Tetapi.. ini sebuah usaha memohon pihak2 terkait bisa ikut "meringankan" nafas orangtua dalam mendidik anak hari gini... Dan saya pikir semua belajar dari pengalaman, kan.. :) |
 | patrialdi wrote on Nov 28, '06, edited on Nov 29, '06 aku paling sebel acara ini.... eehh say aku dah sign no.73 |
 | Saya pikir, justru ketika seorang anak mendapat kecelakaan saat ber"smack down" ria seperti ini, adalah pembelajaran yg sempurna untuk pertumbuhannya kelak kan? Belajar bahwa tidak semua tayangan televisi semuanya aman. Nah disinilah peran penting orangtua kemana akan membimbing anaknya kelak... Camkan pada si anak kalo tidak baik ber-smack down tanpa pengamanan apalagi membanting temannya sendiri. Berikan nasehat yg membangun, bukan malah mencari kambing hitam. Kalo anak mbak jatuh dari sepeda dan kakinya patah, apakah mbak akan mengajak rame2 orang lain untuk mengisi petisi pelarangan sepeda roda dua? Ato malah menyalahkan si sepeda yg tak tahu menahu? Kan nggak mungkin...
Mbak memprotes tayangan Smack Down, masih ada acara WCW di SCTV. Melarang WCW, akan datang acara Free Fighting di TV7... Yang jelas kalo udah kayak gini, mati satu pasti akan tumbuh seribu. Apakah mbak juga akan mengisi petisi pelarangan olah raga tinju kalo si anak juga mencontoh jotos-jotosan tiap kali Chrisjon beraksi?
Saya rasa televisi sebagai media visual memang tidak lain seperti Pandora's Box. Tugas andalah yg seharusnya menyaringnya. |
 | ... By the way, saya belum punya anak. Tapi saya sebagai anak, menghargai cara mendidik orang tua saya yg seperti ini. |
 | Kalo anak mbak jatuh dari sepeda dan kakinya patah, apakah mbak akan mengajak rame2 orang lain untuk mengisi petisi pelarangan sepeda roda dua?  Mas, secara naluri sebagai orang tua, kami tahu mana jatuh yang "mendidik" dan jatuh karena kelalaian dan kekonyolan orang dewasa (ya ortunya, ya orang lain, termasuk televisi dan majalah). Misal ada orang naruh paku di jalan. Kita semua melihat paku itu. Kemudian ada anak yang tertusuk paku itu hingga mati. Apakah kita akan membiarkan saja paku itu ada di jalan? TV kita sudah demikian ancurnya. Akan kita tambah lagi? Jangan mencontoh US. Di US, tayangan alternatif yang mendidik banyak sekali. Selain itu, ada lebih dari 70 channel TV, sehingga perlu memencet puluhan kali tombol remote untuk menemukan acara smackdwon. Di Indonesia? Ya, orang Indonesia memang lucu. Semua barang asing diimpor. Seringkali yang tidak bermutu (atau bahkan merusak). Who cares? (insya Allah kami yang care, Mas)
|
 | wehaz wrote on Nov 29, '06 Tugas andalah yg seharusnya menyaringnya.  Setuju. Anak2 saya kuper untuk urusan smack down. Mungkin karena saringan saya ketat untuk itu. Apakah sesimpel itu tugas orangtua? Bagi saya yang punya waktu, tenaga dan seluruh pemikiran untuk menjaga anak saya, boleh jadi menyaring tontonan/permainan adalah hal sederhana. Bagaimana dengan mereka yang katakanlah tidak seberuntung saya dalam hal waktu, tenaga dan pemikiran untuk mendampingi anak?
Bagaimana harus menyaring berita di bawah ini? Apakah yang begini ini yang dimaksudkan dengan pembelajaran yang sempurna untuk pertumbuhan anak kelak? Anak & Kekerasan. di RCTI,ada 8 anak yg jadi korban. Meninggal, luka-luka, pingsan dan patah tulang :( Ini yg ketauan. kebanyakan di Bandung, ada juga yg di kalimantan. Nah yang gak ketauan berapa?
|
 | wehaz wrote on Nov 29, '06 Ya, orang Indonesia memang lucu. Semua barang asing diimpor. Seringkali yang tidak bermutu (atau bahkan merusak).  *(ini mah boleh ngutip becandaan temen di sebuah milis..:)))*
Bagaimana kalau kita petisikan juga untuk menolak semua tayangan asing, baik yang mengandung kekerasan, kecengengan, kehidupan bebas, kesulapan, kepolitikan, keflora&faunaan. Dijamin negara kita akan benar-benar merdeka, he he he... |
 | shrie wrote on Nov 29, '06 Orang Indonesia memang lucu...  Maksud Anda Orang indonesia yang mana ya?? Kalau menurutku yg lucu itu ya orang indonesia yang tidak care dengan nasip bangsanya sendiri...
|
 | shrie wrote on Nov 29, '06 Saya pikir, justru ketika seorang anak mendapat kecelakaan saat ber"smack down" ria seperti ini, adalah pembelajaran yg sempurna untuk pertumbuhannya kelak kan?  Oh jadi maksud anda... Kalau mau tau isi nereka itu gak enak... jadi kita harus masuk kesana dulu??? Atau kalau mau tau mencuri itu tidak baik kita harus mencuri dulu???
Pembelajaran atas sesuatu yang tidak baik itu tidak harus melalui pengalaman sendiri bukan?? Banyak cara lain yg lebih baik dan lebih aman!.
By the way, perlu anda ingat LATIVI itu adalah TV nasional , bukan TV kabel yang bisa dikontrol melalui password....dan sangat mudah di akses oleh anak kecil.
Untuk orang yang belum mempunyai anak, anda sangat sok tau.... *maaf ya*. Anyway kalau anda ingin kasih tanggapan lagi, tunggu deh sampai anda punya anak dan anak tersebut sedang kritis di RS karena di smackdown temannya... than u talk...!!!
|
 | ciput wrote on Nov 29, '06 Yang jelas kalo udah kayak gini, mati satu pasti akan tumbuh seribu. ------------------------------------------ Anda sudah dengar kalo Smackdown sudah distop tayang oleh Lativi, dan saya yakin stasiun TV lain akan berpikir 1000000000 kali u/ melanjutkan tayangan yg Anda sebutkan di atas. Ini namanya DOMINO EFFECT Bung! Di dalam bahasa hukum, ini namanya PRESEDEN!
See... it works anyway, tanpa harus dengan aksi anarkis kita bisa kok berbuat sesuatu u/ orang banyak. Saya tidak bermaksud mencela pendapat Anda salah atau memuji opini Anda tajam, tapi kalau kita tidak memulai dari sekarang kapan lagi.... hmmm atau Anda sebenarnya orang dalam Lativi sehingga bersikap sedemikian defensifnya :D |
 | Oh mas almato blum punya anak toh, Naah itu dia masalahnya mas, kalo gitu sebelum bicara,coba punya anak dulu, rasain dulu gimana ketar-ketirnya punya anak jaman sekarang deh mas. Boleh2 aja sih nyonto mendidik ortu jaman dulu, tapi jaman berubah drastis je mas. Jaman dulu kan blum ada smackdown, acara tv blum kayak sekarang, informasi masih susah didapat. Istilahnya orangtua jaman dulu, anaknya dilepas gitu aja juga masih aman. Jaman sekarang? waah jangan harap deh... coba aja sendiri mas kalo ga percaya, kalo anaknya diajarin untuk ga melakukan smack down dirumah, tapi trus dismack down temennya sampe perdarahan otak ga bisa bangun lagi, apa nggak nelangsa tuh ortunya. Program TV di Indo tuh yang emang udah ga keruan, merusak dimana-mana ga cuma smackdown tapi juga, berita buser, segala hantu dan sinetron yang ga jelas itu, yang dipikir cuma ngeruk keuntungan, itu realitanya kan.
Hidup petisi! aku dah tandatangan lo mbak Wanda hehe |
 | ciput wrote on Nov 29, '06 Hidup petisi! aku dah tandatangan lo mbak Wanda hehe ------------------------------------------------------------- makasih bundaagnes *yg buat yg ngucapin nih* |
 | setujuuuu... aku juga dah ikutan.. ------ Btw, pingin cerita aja nih... kemaren di sekolah kami --ibu-ibu-- sambil nunggu ngobrolin soal ini (ni topik keluar terus nih 3 hari ini). Sempet amaze juga anak-anak yang sama sekali (menurut ibunya) ngga mengenal smack down setelah case ini keluar sempat ditanya ttg smack down ini, dan mereka bisa menjelaskan secara detail, apa dan bagaimana permainan ini.. yang ga mereka tahu adalah, permainan ini di TV sebenernya cuma pura-pura.. Jadi kami berpendapat, saat ini yang bisa kita lakuin adalah "mengefektifkan komunikasi antara anak-orang tua". jadi mereka bisa cerita aktivitas mereka seharian apapun juga.. supaya kita juga bisa mantau dan ngasih tahu yg sebenernya... Habis, kita ga bisa berharap banyak dari pihak media akan bisa merubah seperti yang kita mau.. well, money talks gitu lho.... |
 | ayoooooo tandatangani petisinyaaaaaa... setuju banget neh.. uda lama gatel liat acara macem ginian, dr awal ditayangkan uda ga seneng, eneg banget liatnya... |
 | wehaz wrote on Nov 29, '06 permainan ini di TV sebenernya cuma pura-pura..  yak..drama sejati. sayangnya anak2 menganggapnya betulan, sampai mengagungkan pemain2nya bak superhero. Di tangerang diadain razia di sebuah SD, ketemunya poster, kartu serba superhero smackdown :(. Korban yang jatuh cerita bahwa mereka dicekik dari belakang, lalu dibanting ala smackdown. Jelas tayangan ini bukan olahraga. |
Comment deleted at the request of the author.
 | Mbak, saya sudah sign. Emang banyak acara-acara tivi gak mendidik.....Cuma, kenapa laku? Karena masih banyak dari kita yang menontonnya. |
 | wehaz wrote on Nov 29, '06, edited on Nov 29, '06 Saya tidak bermaksud mencela pendapat Anda salah atau memuji opini Anda tajam, tapi kalau kita tidak memulai dari sekarang kapan lagi....  Ini kisah karangan saya saja. sang anak bertanya: "ayah, kita kan orang Indonesia, kok tinggal di sini?" Lalu dijawab sang ayah: "orang Indonesia itu lucu, makanya kamu saya ajak pindah, hidup di mana tayangan smackdown tidak ditolak melalui petisi yang lucu."
*peace mas Otis!!* :))
*tanpa mengurangi rasa hormat pada sahabat2 saya yang sedang bermukim di luar Indo, tapi tetap peduli pada bangsa* Bangsa ini mau dibawa ke mana kan tergantung kita yang menjalaninya sekarang.
|
 | asrita wrote on Nov 29, '06, edited on Nov 29, '06 It takes a village to raise a child! -> Quote by Hilary Clinton Bukan cuman orang tua, bukan cuman pendidik, tapi perlu orang sekampung bahkan senegara untuk membesarkan seorang anak. |
 | Saya pikir, justru ketika seorang anak mendapat kecelakaan saat ber"smack down" ria seperti ini, adalah pembelajaran yg sempurna untuk pertumbuhannya kelak kan? Belajar bahwa tidak semua tayangan televisi semuanya aman. Nah disinilah peran penting orangtua kemana akan membimbing anaknya kelak... Camkan pada si anak kalo tidak baik ber-smack down tanpa pengamanan apalagi membanting temannya sendiri. Berikan nasehat yg membangun, bukan malah mencari kambing hitam.  ckckckckck... saya kagum banget lho mas ama opini mas ini... cuman kayaknya klo nanti mas udah punya anak [tolong diperkirakan kpn anda akan punya anak], dimana saat itu yg namanya informasi makin bebas2nya, anda akan sulit menanamkan pada anak anda ucapan spt itu.. kita bisa memberikan nasihat bahkan sampe mulut berbusa2, tp klo ada contoh di tayangan tv ato keadaan di sekolah dimana sang anak mengalami yg namanya bully, smackdown malah membuat anak2 yakin acara spt ini wajib dtonton.. menurut saya, petisi yg dibuat bukan untuk mencari kambing hitam, tp berusaha agar generasi yg akan datang tidak mati sia2 hanya krn mereka mencontoh tayangan spt itu di tv.. bila saatnya tiba, dan anda menjadi orang tua.. jangan terlalu yakin bahwa anda bisa 'membentuk' anak sesuai harapan anda..
|
Comment deleted at the request of the author.
 | Mbak.. aku udah vote tuh... no. 380 ya... This for our children...
|
 | Aku dah vote tuh....buat mas almato yang belum punya anak.....wah kami-kami di sini orang tua yang baik semua tuh...rata-rata melarang dan memfilter keras tontonan anak di tv nasional indonesia yang makin ngaco aja....tapi dari bincang2 dengan ibu dari 3 orang anak lelaki di kelas anak saya yang baru berumur 4 tahun, karena 3 anak itu suka melakukan smackdown ke teman-temannya, terungkap bahwa mereka(sang ibu) gak punya kuasa melarang ayah si anak untuk tidak mengajak anaknya nonton smack down di televisi. Nah lo...kalo gini gimana....kami sih sudah berusaha biar anak gak teracuni tivi, tapi orang tua lain???? Ada yang dikasih tau malah ngeyel....urus aja anak ibu...katanya.....Hah...padahal anak kita kan bisa jadi korban.... Cepet punya anak deh...biar tau gimana rasanya harus mempersiapkan anak kita sendiri yang udah susah payah kita didik untuk menghadapi anak orang lain yang "ngaco". Sorry mom wanda....jadi emosi jiwa nih :D |
 | uda vote mbak Wanda, udah hampir 400-an tuh yg sign
menyaring tontonan anak emang tugas orangtua. lha ...kita sbg orang tua udah menyaring, tapi orangtuanya anak2 yg lain yg gak punya waktu gimana ? anak kita juga yg jadi korban dismackdown anaknya orang lain. makanya tayangan yg gak cucok untuk anak2 yg harus ikut dikurangi. agar banyak anak2 yg tidak teracuni ... |
 | ciput wrote on Nov 29, '06 udah dunk, jangan memojokkan Mas Almato, tar stress dia secara udah salah tempat kasih opini di sarang ibu-ibu gini =)), tar dia kapok terus malah ga mau punya anak lagi :))
Buat yg udah vote, makasih yaaaa.... sekarang aku bingung mo diapain itu petisi. Lagi mikir mo ngadep langsung ke Menkominfo *lagi nyariin Eriq mo minta temenin nih* atau ada yg punya usul laen? |
 | udah dunk, jangan memojokkan Mas Almato, tar stress dia secara udah salah tempat kasih opini di sarang ibu-ibu gini =)), tar dia kapok terus malah ga mau punya anak lagi :)) ------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------ Iyaa..udah deh biarin aja orang mo nyablak kayak apa seenak udelnya kita terus berlalu saja sesuai dengan apa yang kita yakini adalah yang terbaik. Let's just do our best and let God do the rest!!! Orang mo komentar seperti apa itu hak dia sebagai individu hehehehehehe......peace! |
 | wehaz wrote on Nov 29, '06 wah..iya.. maaf ya, aku lagi sibuk manggilin Mas Almato-nya nih. Satu jam yang lalu beliau mampir. Tapi kok gak negor ya? :)) Peace, mas.Jangan kapok jadi contactku ya :) Biasalah, kali ini gak sependapat, mungkin kali lain.
Mas Ciput, Menkominfo bilang ini urusan content, jadi urusannya KPI. Sementara KPI judulnya "mari menghimbau" kan? Tapi memang formalnya sih KPI. Atau mau pake jalur muter? Komisi Perlindungan Anak atau Menpora? |
 | almato wrote on Nov 29, '06, edited on Nov 29, '06 Dear mbak-mbak semua yg diatas (baik yg emosi & yg masih kepala dingin kayak mbak Wanda),
Memang saya akui saya belum mempunyai anak untuk memberikan opini yg mbak-mbak sekalian, anggap saya belum cukup kompeten untuk itu. Tapi kapasitas saya disini untuk memberikan pendapat dan pengalaman saya sebagai anak, sesama teman sepergaulan, dan bahkan anak-anak yg dekat dengan saya seperti sepupu saya yg kecil2 ato keponakan. Toh untuk memberikan opini tentang sex life, Dr. Boyke tidak harus menjadi sex machine kan?
Nah dalam hal ini saya memberikan perspective yg berbeda daripada mbak-mbak sekalian semua, karena orangtua juga bisa salah. Menurut saya, terlalu naif menuduh televisi kita biang kehancuran mentalitas bangsa, buat sebagian mbak-mbak yg terlanjur menuding saya tidak peduli bangsa.
60 tahun merdeka bangsa kita makin terpuruk seperti ini, apakah salah televisi? Televisi sekarang saja umurnya baru belasan taun. Nah kita yg dari kecil sampe besar dengan TVRI yg menyiarkan acara yg baik-baik saja macam transmigrasi dan Unyil, tidak mampu tuh memperbaiki mentalitas bangsa yg sudah bobrok ini? Ambil contoh begini saja deh: Dari kecil kita tidak punya tontonan macam Smackdown, tapi darimana kita belajar memukul dan menendang tersangka yg belum tentu bersalah?
Kembali ke perspective saya sebagai anak, saya rangkumkan itu semua, dan menjadi kesimpulan bahwasanya: Anak itu senang mencoba karena di drive oleh rasa ingin tau yg besar. Anda tentu sudah tau itu kan? Makanya tindakan yg diambil oleh pihak televisi adalah memindahkan ke jam tayang orang dewasa. Nah kalo pada jam segitu si anak belum tidur dan diam-diam menonton Smackdown, itu menjadi salah tayangannya? Salah stasiun televisinya? Kenapa dia justru tidak memilih menonton tayangan Flora & Fauna di stasiun TV yg sama padahal tidak perlu repot2 menahan kantuk? “Guns don’t kill people. People kill people.” –Martin Luther King-
Televisi itu laksana dunia yg dibungkus didalam kotak. Semua baik dan buruknya dunia, benar dan salah lingkungannya, semua tersedia seperti junk food cepat saji. Tapi begitu-begitu, televisi itu milik kita bersama. Anak kecil-Dewasa, Muslim-Non Muslim, Penggemar Sinetron-Anti sinetron, semua menikmati stasiun televisi yg sama. Kenapa mesti ada pemaksaan generalisasi? Toh sudah jelas2 diperingatkan kalo si anak punya acaranya sendiri. Jam tayangnya sendiri. Mungkin ini pertama kalinya yg mengutarakan hal ini, saya sendiri seorang Muslim, tapi sudah berbulan-bulan ini tayangan kita isinya Islamisasi, saya saja sudah eneg. Bagaimana dgn yg non-Muslim?
|
 | almato wrote on Nov 30, '06, edited on Nov 30, '06 Kalo ini pada akhirnya menyangkut selera, mbak-mbak sekalian ternyata adalah hanya sekelompok komunitas yg menyuarakan opini-nya berdasarkan KETIDAK SUKAAN kepada tayangan tertentu, Well… Demokratislah. Saya pribadi tidak suka Sinetron- sinetron kita. Tapi ratings-nya selalu tinggi tuh, toh saya tidak mengadakan petisi anti-sinetron. Saya menghargai kalo diluar rumah saya masih banyak ibu-ibu, mbak-mbak yg menghargai sinetron walau tidak bermutu seperti itu…. kalo MENURUT SAYA…
Ya kita sih peace-peace saja ya mbak Wanda. Thanks atas wadahnya. Saya tunggu komentar2 dari yg lain yg siap berdiskusi dengan saya. Kali ini tanpa emosilah. K?
|
 | hehehe. menurutku, sinetron dan smackdown sama-sama ditayangkan di televisi. bedanya, smackdown ini sedang dalam kondisi "merah". kenapa? karena sudah beberapa anak jadi korban (bahkan tewas) karena meniru adegannya.
maraknya tayangan smackdown di televisi ini juga yang memicu orang membuat versi vcd, game, dan poster-posternya.
kalau kita diimbau untuk "dewasa" menyikapi tayangan kekerasan ini, ya nggak bisa. wong yang jadi korban itu anak-anak (belum dewasa). :D |
 | udah tandatangan nomer 96,alasannya kerena gak demen aja dengan segala jenis macam acara yg menunjukan kekerasan.
lain dari pada itu aku mau tanya nih, karena heran, katanya acara itu di tayangkan jam 9 malam, itu udah agak memenuhi syarat, karena di negara aku tinggal di tayangin jam 12 malam keatas.
Yg bikin aku bingung anak² di indonesia itu tidurnya jam berapa sih??di negara aku tinggal, yg masih tingakt SD jam 7.30 malam itu udah pada masuk kamar tidur gak ada acara tv lagi. yang SMP jam 9 malam udah pada masuk kamar tidur juga, han yg SMU baru yg tidur gak di atur.
Jadi kalau acara itu di tayangkan jam 9 sebenernya yg salah bukan tv nya tapi emang ortunya yg kurang bisa displin ke anak, ampe malam gak tidur. Waktu aku masih SD-SMP, jam 7 makan malam, jam 7.30-( malam itu waktu belajar, gak boleh nonton tv sama sekali. jam 9.30 masuk kamar tidur, setelah gosok gigi, dll, tidak ada acara tv lagi sampai sabtu malam, nonton ahkir pekan.
gitu pendapatku. |
 | almato wrote on Nov 30, '06, edited on Nov 30, '06 Jadi ingat dulu waktu jaman Bung Karno. Semua yg berbau The Beatles harus dimusnahkan. Alhasil? Penggemar Beatles di Indonesia diam-diam makin bertambah banyak.. Ato kasus pelarangan menonton film True Lies di taun 94. Hari terakhir sebelum dibredel, penonton membludak memenuhi 21. Toh selesai menonton, kita tidak jadi anti-Amerika kan karena sadar itu hanya entertainment belaka? Asumsi yg berlebihan saja yg membesar2kan.. Sesuatu itu kalo semakin ditekan, akan semakin meluap keluar. Percayalah.
Jadi seharusnya, kontrol itu dilakukan dari domestik dulu lah. Perbaiki dulu keharmonisan keluarga. Komunikasi antar anak-orang tua. Kan anak kecil suka cerita tuh, masa sih orang tua bisa gak tau kegiatan anaknya? Itu sih orang tuanya aja yg kelewatan. |
 | ciput wrote on Nov 30, '06 gimana mo diskusi dengan kepala dingin dan peace peace aja ya klo bahasanya begini..... ----------------------------------------------------------- wis Mba, sing waras ngalah wae :p *perbedaan itu memerindah, bukan memerlebar jurang* |
 | ciput wrote on Nov 30, '06, edited on Nov 30, '06 Jadi seharusnya, kontrol itu dilakukan dari domestik dulu lah. Perbaiki dulu keharmonisan keluarga. Komunikasi antar anak-orang tua. ------------------------------------------------------ Bung udah baca isi petisi saya, terutama point 4, yaitu: Mendesak semua stasiun televisi di tanah air untuk membantu meringankan beban tugas dan tanggung jawab orang tua dalam mendidik anak dengan menghapustayangan yang tidak mengandung unsur pendidikan sama sekali.
Kalau Anda simak dengan baik, kami tidak minta lebih, cuma minta bantuan meringankan beban dalam mendidik anak, bukan menyalahkan tayangan atau stasiun TV khan... 'ingat kata-katamu a/ harimaumu' *gw ga inget siapa yg gw kutip, tapi quotation ini gw denger sedari gw kecil* |
 | huehehehehehe....mas ciput lagi sabar niih :))) |
 | kalau gusdur punya MP dan ikutan nimbrung disini, jawabannya hanya satu, "gitu aja kok repot" :D *peace hihih100x"
Lagian yah, apa sih menariknya tayangan yang adegannya lebih condong ke arah kekerasan?? norak sih iya, mendidik apa iya?? ndak bisa nanyangin acara yang lain ya yang bisa mendatangkan keuntungan?? *wis ngisi petisi no 98 lowwhhhh pakde :)* |
 | shrie wrote on Nov 30, '06 Saya pribadi tidak suka Sinetron- sinetron kita. Tapi ratings-nya selalu tinggi tuh, toh saya tidak mengadakan petisi anti-sinetron.  Disitulah salah anda... Siapa sih yg mau petisi sinetron... Walaupun kebanyakan senitron kita itu JIPLAKAN atau gak MUTU! tapi so far tidak ada korban yg berjatuhan.
Nah Kalau Smackdown...!!! Bagaimana Mas ciput gak sigap... la wong korbannya sudah banyak dan Anak kecil pula.. ckckckckckck
|
 | wehaz wrote on Nov 30, '06, edited on Nov 30, '06 'ingat kata-katamu a/ harimaumu' *gw ga inget siapa yg gw kutip, tapi quotation ini gw denger sedari gw kecil*  hehehehe...jawara quotation dilawan.. :) Nih saya kasih: "Orangtua pernah jadi anak-anak, tapi anak-anak belum pernah jadi orangtua." gak tau juga deh dari siapa aslinya. Terakhir sih denger Bunda Dorce yang nyebut gitu heheheheh..... :)) Itu sebabnya, saya pikir untuk kasus smackdown dan embel2 petisi,kalau melihat dari perspektif keberadaan sebagai anak/keponakan atau apalah istilahnya, pasti ada missing link dengan perspektif keberadaan sebagai orangtua.
Orangtua tidak pernah salah? Sama sekali tidak benar. Di wadah lain, ada pertanyaan "Kenapa tidak orangtuanya yang introspeksi diri?". Saya jawab: "Saya yakin sekarang sedang terjadi introspeksi diri besar-besaran oleh orangtua. Banyak orangtua yang terbangun tiba-tiba dari tidurnya. Bentuknya introspeksi besar-besaranya adalah: memilih materi tontonan yang sesuai buat anak, mengatur waktu menonton, dan mengisi petisi online... :D" Tapi sekali lagi ini sepertinya hanya berlaku bagi sekelompok orangtua beruntung( yang mungkin disebut Mas Almato komunitas yang menentang berdasar KETIDAKSUKAAN). Saya katakan beruntung, karena kami masih memiliki cukup waktu, tenaga dan pemikiran untuk mendampingi anak. Landasannya bukan ketidaksukaan, tapi keprihatinan.
Mas Almato sepertinya berguru di perguruan yang hampir sama dengan saya ya? Tajam sekali menganalisa media massa dan dampaknya. Saya akui pendapat Anda ada benarnya. Tapi seperti yang disampaikan Mas Tian, saat ini tayangan smackdown sedang dalam posisi red alert. Hubungannya dengan dampak buruk pada anak-anak. KONTEKS inilah yang perlu disorot. Makanya coba diikuti dahulu anjuran Mas Ciput untuk menyimak kembali point 4 petisi ini.
|
 | almato wrote on Nov 30, '06, edited on Nov 30, '06 Dear mas ciput ato mbak ciput nih? Iya saya sadar sekali dengan isi petisi anda, apalagi nomer 4. Anda sendiri juga tidak menyimak opini saya dengan baik. Kok mesti bernada insinuatif? Bagian yg saya huruf besarkan semua adalah yg saya tekankan, maaf tidak bermaksud untuk bernada keras. Supaya anda tidak miss my point lagi.
Saya sudah tekankan tadi, TELEVISI ITU MILIK BERSAMA. Kalo anda termasuk dari sebagian kelompok yg menyuarakan opini-nya berdasarkan KETIDAK SUKAAN kepada tayangan tertentu, Well… BELAJAR demokratislah. Menghapus semua tayangan yg tidak mengandung unsur pendidikan itu adalah MENURUT ANDA.. Ada sekian juta orang lagi yg membeli tv-nya untuk semata-mata rekreasi setelah seharian bekerja yg tidak perlu unsur pendidikan di tayangan tv nya. Anda tidak pikirkan itu? Lagian, emang situ mau menonton acara pendidikan pada jam 11 malam?
Untuk kasus sinetron, anda bisa bilang "begitu-begitu walopun ceritanya gak bermutu, gak pernah jatuh korban."... Siapa bilang? SECARA TIDAK LANGSUNG pasti! Semua itu terakumulasi di kepala si anak, ya bentak-bentakannya laah, yaa beranteman-berantemannya laah, apalagi sampe yg maen pukul. Hanya saja, karena terlalu banyak, kita tidak bisa menunjuk yg mana.
Memang susah ya mendisiplinkan anak untuk tidur setelah jam 7 malam? Kalo ini sudah dijalankan saja, dijamin enggak ada anak sekolah yg sampe tau setiap nama2 pemain di Smackdown. Masalahnya, orangtua nya mampu tidak? |
 | wehaz wrote on Nov 30, '06 huehehehehehe....mas ciput lagi sabar niih :))) _______________________________________
sopan, di sarang ibu-ibu je.... :)))) |
 | alyssakuw wrote on Nov 30, '06, edited on Nov 30, '06 Sesuatu itu kalo semakin ditekan, akan semakin meluap keluar. Percayalah.  Siip Percaya ... pasti anda udah merasakannya juga kan?? ...
Mas ... Intinya coba deh EMPATY sedikiiiitt ajaah.... selesai sdh permasalahannya... Ga usah memperlebar2 lagi, laah mau jaman Bung Karno keq ampe ntr jaman kuda gigi jari pun ga bakalan kelar debat kusir kyk gini .... klo anda msh jg ga punya rasa EMPATY .... ntr malam coba direnungi ya mas kata EMPATY itu apa ciiih ???
(ngikutin iklan di tivi) " Yaaa gtu deeeh "
|
 | wehaz wrote on Nov 30, '06 Memang susah ya mendisiplinkan anak untuk tidur setelah jam 7 malam? Kalo ini sudah dijalankan saja, dijamin enggak ada anak sekolah yg sampe tau setiap nama2 pemain di Smackdown. Masalahnya, orangtua nya mampu tidak? _______________________________________________________________________________________________
Tidak sesederhana itu. Gampangnya kelompokkan orangtua berdasarkan status sosial, ekonomi dan pendidikan. Mas Otis (atau Almato? Aduh..lier euy..yg mana yang bener?) akan mendapat jawaban yang sangat variatif. Orangtua pernah jadi anak-anak.Anak2 belum pernah jadi orangtua.... :) |
 | hehehe ...masalahnya saya percaya ibu-ibu di sini bisa mendisiplinkan anaknya untuk tidak nonton smackdown dan tayangan kekerasan yg lain
tapi gimana dengan anaknya ibu-ibu yg lain yg gak tahu bahayanya tayangan penuh kekerasan itu ? anaknya ibu-ibu itu main dengan anak kita, dan kemudian anak kita diajarin dan jadi korban kekerasan (fyi ibu-ibu di kampungku banyak yg pendidikannya rendah dan tingkat ekonominya rendah, sehingga gak ngeh sama hal beginian)
siapa yg ngasih tahu ibu-ibu itu ? kenapa tidak dihapus aja tayangan kekerasan di tivi, biar anaknya ibu-ibu yg lain itu gak perlu nonton.
itu aja siy intinya ....kami para orangtua berkomitmen memfilter tontonan anak, pihak media juga berkomitmen untuk menayangkan tayangan yg bermutu dan menghapus tayangan kekerasan. alangkah idealnya ....:) |
 | Mas Almato, take it easy aja. By the way, suami saya sependapat dengan Mas Almato nih, hanya saya enggak sependapat banget. Kalau beliau ikutan MP juga, mungkin kasih komennya nyaris-nyaris sama dengan Mas Almanto ini, padahal suami saya dah punya anak lho. Karena beda pendapat ama saya, jadi ribut deweee...xixixixixi. |
Comment deleted at the request of the author.
 | ciput wrote on Nov 30, '06 Saya sudah tekankan tadi, TELEVISI ITU MILIK BERSAMA. Kalo anda termasuk dari sebagian kelompok yg menyuarakan opini-nya berdasarkan KETIDAK SUKAAN kepada tayangan tertentu, Well… BELAJAR demokratislah. Menghapus semua tayangan yg tidak mengandung unsur pendidikan itu adalah MENURUT ANDA.. Ada sekian juta orang lagi yg membeli tv-nya untuk semata-mata rekreasi setelah seharian bekerja yg tidak perlu unsur pendidikan di tayangan tv nya. Anda tidak pikirkan itu? Lagian, emang situ mau menonton acara pendidikan pada jam 11 malam? ---------------------------------------- Justru kata milik bersama itulah yg secara sadar saya pakai untuk menghimbau boikot satu TV untuk mendesak mereka menghentikan siaran ga jelas itu. Kalau ga ada yg nonton, terus ga ada yg pasang iklan, terus mereka mau ga mau mengganti tayangannya khan. Kalau lantas tanpa diboikot pun mereka sudah menyetopnya, ya syukur Alhamdulillah... jadi ga ada yg dirugikan terlalu jauh, misalnya dgn hilangnya pendapatan TV dari iklan :D
Soal siaran pendidikan, emang saya sebut jam? Ga kan. Anda ini memang berlandaskan emosi ya kalo ngomong. Bilang nyimak, tapi nyatanya kelewat juga bacanya. Disitu saya sebut bantu dgn tidak menayangkan (tidak ada jam). Kalau jamnya anak-anak melek, ya pas prime time lah (7-9) selebihnya silakan mau nampilin bokep juga ga pa pa, emangg gw pikirin, krn jam segitu tinggal gw yg ndengerin (bukan nonton) TV *biar ga sepi ajah*
Cuma yg saya heran kenapa 2 unsur lain yg juga mengkhawatirkan, yaitu mistik dan pornografi, ga dibahas juga ya. Dulu sewaktu kasus Playboy dan RUU APP sampe berantem di jalanan. Sekarang kok orang2 yg dulu teriak2 anti pornografi pada ngumpet??? Kemane aje tuh mereka? *siapaaaa yaaaa???* dibungkem sama duit yak??? :D Padahal kalo dicermati SD itu penuh dng penampilan nyaris bugil, baik oleh aktor pria maupun wanita plus kata2 kasar (f***in, b****d, b****ch dlsb) yg ga disensor sama sekali. |
 | ciput wrote on Nov 30, '06 makasih ya mas dah mo bantu kasih wadah buat ortu kayak gini. ---------------------------------------- sama2 Mba, secara saya juga ayah dari dua anak laki-laki (7 dan 4 tahun) tengil yg pastinya seneng gelut sendiri, biar ga ada smackdown juga, tapi khan lebih tidak membahayakan gettoooo... |
Comment deleted at the request of the author.
 | Hahahaha, yg berlandaskan emosi kalo ngomong itu disini siapa mas? Kok ngomongnya udah pake "gue-gue", dibandingkan pemakaian kata "saya" yg lebih terpelajar seperti diatas sebelum-sebelumnya? Ya sudahlah mas, saya gak mau mancing2 jiwa "preman" dalam diri mas, jadi saya sudahi saja masih dengan kepala dingin.
Terakhir saya ingin sampaikan kepada mbak-mbak sekalian, saya sebenernya turut prihatin kepada para korban yg sudah berjatuhan. Hanya saja saya menyesalkan "ide" langkah yg dikeluarkan untuk menyelesaikan inti permasalahan ini, sudah menjadi salah kaprah. Kalau dibaca baik-baik semua reply diatas, banyak individu dari topik diatas ikutan mengisi petisi hanya dengan berdasarkan "tidak suka" dan "gak demen"... Hmm, jadinya sangat subyektif sekali. Yah, apalagi mau dikata selain, BELAJAR DEMOKRATISLAH...
Thanks semuanya, thanks mbak Wanda see you in other "debat kusir".. Hehehe. |
 | wehaz wrote on Nov 30, '06 Thanks semuanya, thanks mbak Wanda see you in other "debat kusir".. Hehehe. ___________________________________________________________________
You're welcome, Mas Otis. :) Saya pikir semua kita saling belajar. Kalau dalam orkestrasi, gak bakal ada melodisasi (halah..istilahnya..:)) yang indah kalau semua memainkan instrumen yang sama kan.. :D |
 | wehaz wrote on Nov 30, '06 Kalau lantas tanpa diboikot pun mereka sudah menyetopnya, ya syukur Alhamdulillah... _________________________________________________________________________
Amiinn.. |
 | ciput wrote on Nov 30, '06 Hahahaha, yg berlandaskan emosi kalo ngomong itu disini siapa mas? Kok ngomongnya udah pake "gue-gue", dibandingkan pemakaian kata "saya" yg lebih terpelajar seperti diatas sebelum-sebelumnya? Ya sudahlah mas, saya gak mau mancing2 jiwa "preman" dalam diri mas, jadi saya sudahi saja masih dengan kepala dingin. ---------------------------- baru sadar kalo saya itu MAS??? Hahahaha... tipis sekali pengamatan Anda ternyata :p *makasih udah kasih pendapat beda* |
 | ciput wrote on Nov 30, '06 well... sampai saat ini posisi signees: 550++ and I believe it is keep counting! So TETAP SEMANGAT!!! |
 | wehaz wrote on Nov 30, '06 sampai saat ini posisi signees: 550++  oks :)) mas, SD sudah stop tayang. Masih relevankah kalo petisi ditujukan ke KPI? Ok, masih ada tayangan kekerasan dll-nya. Apa tidak mengusung soal perlindungan anak? |
| |