Sebuah kejutan lagi saya terima dari Vian, sulung saya, pada sebuah kegiatan puncak pembelajaran tematik di sekolahnya. Dua hari sebelumnya, Ibu Sita, walikelas berpesan khusus pada Vian untuk membuat puisi bertema keluarga. Puisi itu harus dibacakannya di pentas kegiatan nanti.
Anakku naik panggung. Jujur saja, aku senang pada kesempatan yang dia peroleh, sekaligus cemas akan apa yang bakal terjadi di atas sana. Virus flu panggung bisa saja tiba-tiba menyerang siapapun yang baru beberapa kali menapaki tangga pentas. Apalagi bagi anak-anak. Ada saja yang tiba-tiba tidak percaya diri, mogok di belakang panggung, ada yang tiba-tiba menangis saat sudah di atas panggung, bahkan ada yang grogi dan lupa apa yang harus dilakukan. Namun tidak sedikit pula yang memberikan kejutan-kejutan panggung, di luar perkiraan.
Di panggung yang sama, saat Vian memberikan kejutan panggungnya dahulu sebagai Yuyu Kangkang, kali ini orangtua boleh mendampingi dan tampil bersama anak-anaknya. Saya dan beberapa Ibu lain turut berjejer di belakang barisan anak-anak kami. Bangga sekali melihat Vian dengan suara lantang dan penuh percaya diri membacakan puisi karyanya. Saya pikir, bolehlah saya dan ibu gurunya bernafas lega saat ia tuntas membaca. Penampilan kelas masih dilanjutkan dengan nyanyi bersama. Berbeda dengan pembacaan puisi yang punya kesempatan latihan dua hari, saya tahu persis, kelasnya tidak ada kesempatan latihan untuk lagu “Pergi Sekolah”. Anak-anak hanya diharuskan menghafal lagu tersebut dan naik panggung keesokan harinya.
Dea, teman perempuannya yang juga membacakan sebuah puisi, menempatkan microphonnya dan mundur memasuki barisan paduan suara. Tapi Vian tidak! Saat intro musik mengalun, dia tetap memegang microfonnya. Lalu mulai melantunkan “oo..ibu dan ayah..selamat pagi… kupergi sekolah sampaikan nanti..” Hingga lagu itu selesai aku hanya bisa terperangah. Lagu itu dinyanyikannya dengan baik, tapi gaya dan penjiwaan lagunya bagaikan seorang penyanyi rock! Tangan Vian menggenggam mike, satu kaki maju, dengan mimik sangar, sampai matanya merem melek. Astagaaa….!! Benar-benar di luar skenario. Paduan suara berubah menjadi seorang Mick Jager dengan penyanyi latar yang banyak!! Ingin sekali saya minta maaf pada Ibu gurunya. Mungkin helaan nafas lega saat tuntas membaca puisi, kembali harus tercekat oleh lagu ala rocker itu.
Karena berada di atas panggung juga, saya hanya bisa bertepuk tangan dan tersenyum. Padahal, macam-macam pikiran berkecamuk dalam kepala. “Itukah Vian?”, “Ada apa dengan Vian?”. Antara malu dan bangga juga dengan anak ini. Anekdot If you think I’m cute you should see my mom, sangat mengganggu pikiran saya saat itu. Saya merasa, semua mata melihat ke arah saya, dan semua kepala seolah mengeluarkan awan yang berisi kalimat “Itu ibu yang ngajarin”. Padahal, sungguh saya juga sedang mencoba menebak apa yang ada di kepala Vian. Telinga saya masih bisa mendengar tepuk tangan penonton, namun mimik saya tidak bisa berbohong. Saya hanya bisa bengong, sampai saat kami tiba di belakang panggung, semua mengacungkan jempol untuk Vian. Spontanitasnya sebagai penutup seluruh kegiatan itu, membuat sekian banyak penonton terkesima dan bersemangat lagi.
Masih di lokasi Bintaro Trade Center, hanya pujian yang keluar dari mulut saya “Vian baca puisinya bagus deh. Nyanyinya juga hebat.” “Iya, Vian cocok sekali menyanyi solo. Sebab, kalau paduan suara, nyanyinya harus bersama-sama, tidak boleh ada yang menonjol sendiri,” tutur ayahnya sambil memuji sekaligus menasihati. Sepanjang perjalanan pulang, saya dan suami membahas kejutan panggung Vian tadi. Sungguh, kami sama terperangah dan terkesimanya dengan penonton lain. Suami yang bertugas membuat dokumentasi, mengaku kecolongan. “Papa pikir baca puisinya sudah selesai, jadi papa mundur dari depan panggung. Tiba-tiba kedengaran suara anak yang nyanyi sendiri, papa cuma bisa bengong di tempat,” jelas suami saya. Memang hanya satu foto yang terekam untuk penampilan Vian the Rocker. Itupun diambil dari jarak yang cukup jauh dari panggung, sebab sang fotografer masih terkaget-kaget tidak percaya.
Kalau dikatakan buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Saya percaya itu. Secara genetik, anak akan membawa ciri fisik dan sifat pribadi dari orangtuanya. Jangankan anak kandung, anak angkat yang telah hidup bersama dan dididik dalam sebuah keluarga, sedikit banyak akan mengadopsi sifat orangtuanya. Namun untuk spontanitas dan keberanian (baca: kenekatan) Vian tampil di atas panggung, saya masih mencari-cari buah ini jatuh dari pohon yang mana. Seingat saya, kami bukanlah keluarga yang terlalu sering naik panggung. Kalaupun naik panggung untuk pertunjukan seni, selalu pakai persiapan dan latihan. Ayahnya juga demikian. Bahkan kami saja masih suka terserang demam panggung.
Jadi teringat, saya harus meminta maaf pada walikelas Vian. Anak saya telah membuat sebuah penampilan di luar skenario. “Mm..tapi kan memang tidak ada latihan persiapan,” saya masih berusaha ngeles. Haruskah saya bangga atau sebaliknya? Hati kecil saya, tetap berkata “anakmu tidak menyakiti dan merugikan orang lain. Banggalah terhadapnya…” So, if you think he’s cute. I’m his mom. If you don't, I'm still his mom..
Link Journal dan foto:(please click)
Kejutan panggung sebelumnya ada di: Money Money, It is Not Valid for Us
Foto sang rocker ada di: Album Foto The Stage
"Who has confidence in himself will gain the confidene of others."
-Leib Lazarow
Foto: Vian berfoto gaya mata hilang