Lagi-lagi Ririen, temanku yang bak burung murai ini, berkata padaku di kantin sekolah anak kami, berbisik tepatnya "Kita dibilang ekstrim." Kali ini hanya senyum yang bisa kubalas padanya. Mau apa lagi? Mengumpat? Tak ada gunanya. Aku malah teringat kumpulan cerpen karya Djenar Maesa Ayu, "Mereka Bilang, Saya Monyet". Ketika banyak orang tak ubahnya berperilaku seperti binatang. Orang-orang ini menolak disebut binatang. Padahal tubuhnya manusia dengan kepala berwujud binatang. Mereka menolak disebut binatang, karena mereka masih punya otak. Sementara sosok yang digambarkan sebagai tokoh utamanya, tak lebih dari seekor monyet.
Meskipun aku dan teman-teman masih lebih beruntung tidak disamakan dengan binatang, tetapi label itu tetap membuatku tersenyum. Label yang entah bisa dibilang benar oleh siapa dan bisa dibilang salah oleh siapa. Aku bahkan tidak berani mengelak dengan mengatakan itu salah. Mungkin saja itu benar. Namun yang aku tahu bukan untuk label itulah kami berada. Pelabelan itu justru semakin memantapkan langkahku dan beberapa orangtua murid lain memperjuangkan sekian nominal, sebutir etika dan selembar transparansi dari yayasan yang mengelola sekolah anak kami. Entah untuk berapa lama lagi. Entah untuk pengorbanan apa lagi. Biarkan sajalah. Dari pojok manapun manusia berdiri, pojokan lain akan menjadi ekstrim.
Satu persatu jawaban justru dapat kupungut. Satu persatu pelajaran justru dapat kuraih. Apalah artinya aku dibanding almarhum Munir, Cak Nur, dan pejuang-pejuang kebenaran lainnya. Aku hanya bisa membaca kisah perjalanan dan berdecak kagum untuk beliau-beliau itu. Kalaupun aku sekarang berada di barisan yang dari pojok manapun terlihat ekstrim, semata hanya karena rasa maluku pada anak-anakku. Ya. Rasa malu apabila aku menjadi bagian penerus dari ketidakbenaran dan ketidakadilan yang sedang terjadi di sekolah anakku. Sementara aku sang ibu mengajarkan moral berucap dan bertingkah benar. Layaknyalah dengan keterbatasanku aku menjadi teladan bagi mereka.
Untuk anakku yang memerhati,
Saat perjalanan ini dimulai dua bulan lalu,
kami berbanyak. Beramai.
Perlahan-lahan barisan itu susut. Satu persatu bagian barisan copot dari utuh.
Namun kami tak berhenti. Mata kami tetap awas.
Tangan kami tetap bekerja dan otak kami meruntun taktis rencana demi rencana.
Nurani kami semangat kami.
Kalau sekarang ibumu terus mencari peluang dimana perjuangan ini dapat menyelinap, bukan karena aku ekstrimis.
Kalau sekarang ibumu rajin membolak balik lembaran Undang-Undang Pendidikan Nasional, bukan karena aku ekstrimis.
Kalau sekarang bahkan Undang-Undang Perlindungan Konsumen jadi pertimbanganku, bukan karena aku ekstrimis.
Kalau sekarang pemberitaan pendidikan negeri ini di rubrik humaniora harian nasional jadi makananku tiap hari, bukan karena aku ekstrimis.
Kalau ibumu yang diam tapi berpikir strategis di sela riuh kicaumu, bukan karena aku ekstrimis.
Kalau ibumu bersedia mewakili orangtua teman-temanmu, bukan karena aku ekstrimis.
Aku peduli.
Pada kepincangan-kepincangan di sekolahmu.
Kepincangan yang sarat letupan kecil. Terakumulasi.
Kepincangan yang siap meledak bagaikan bom waktu.
Tinggal eksekusi oleh siapa.
Untuk itu semua aku tidak perlu label, sayang.
Tuturmu tetap "Dia Ibuku." Cukup menyejukkan dan menguatkan hati.
Percayalah Nak,
Semua karena rasa bersalah yang tak akan habis
apabila aku tidak melakukannya sekarang, saat-saat ini.
Saat-saat aku menunggumu menjadi dewasa.
Saat-saat aku harus menemanimu
Saat-saat aku harus menuntunmu
Saat-saat aku harus memperkenalkanmu
dengan nilai dan semangat memperjuangkan kebenaran dan keadilan.
Kalaupun sedikit yang dapat kau ingat tentangku nanti,
kuharap dewasamu selalu pada jalur kebenaran.
Nuranimu adalah matamu.
Waktu dewasamu akan membuatmu mengerti apa yang kutuliskan ini.
Berbeda dan berjuang, bukanlah ekstrim, sayangku...
Anekdot kecil yang kudapat saat rapat terakhir dari sesama orangtua:
"Alhamdulillah, kondisi sekarang sulit dan keuangan saya tidak terlalu bagus, jadi saya masih bisa berpikir rasional."
Fiuhh...that bad, huh..
Jurnal terkait: (silakan click judul)
The School Must Go On: Bincang yang Pincang-Pincang
The School Must Go On: Episode Mengisi Petisi
"Whenever you find yourself on the side of the majority, it's time to pause and reflect."
- Mark Twain
Foto: Gambar terbaik hingga saat ini bersama Vian & Darren