Blog EntryMereka Bilang, Aku Ekstrimis. Thanks, anyway!!Sep 19, '05 3:27 AM
for everyone

Lagi-lagi Ririen, temanku yang bak burung murai ini, berkata padaku di kantin sekolah anak kami, berbisik tepatnya "Kita dibilang ekstrim." Kali ini hanya senyum yang bisa kubalas padanya. Mau apa lagi? Mengumpat? Tak ada gunanya. Aku malah teringat kumpulan cerpen karya Djenar Maesa Ayu, "Mereka Bilang, Saya Monyet". Ketika banyak orang tak ubahnya berperilaku seperti binatang. Orang-orang ini menolak disebut binatang. Padahal tubuhnya manusia dengan kepala berwujud binatang. Mereka menolak disebut binatang, karena mereka masih punya otak. Sementara sosok yang digambarkan sebagai tokoh utamanya, tak lebih dari seekor monyet.

 

Meskipun aku dan teman-teman masih lebih beruntung tidak disamakan dengan binatang, tetapi label itu tetap membuatku tersenyum. Label yang entah bisa dibilang benar oleh siapa dan bisa dibilang salah oleh siapa. Aku bahkan tidak berani mengelak dengan mengatakan itu salah. Mungkin saja itu benar. Namun yang aku tahu bukan untuk label itulah kami berada. Pelabelan itu justru semakin memantapkan langkahku dan beberapa orangtua murid lain memperjuangkan sekian nominal, sebutir etika dan selembar transparansi dari yayasan yang mengelola sekolah anak kami. Entah untuk berapa lama lagi. Entah untuk pengorbanan apa lagi. Biarkan sajalah. Dari pojok manapun manusia berdiri, pojokan lain akan menjadi ekstrim.

 

Satu persatu jawaban justru dapat kupungut. Satu persatu pelajaran justru dapat kuraih. Apalah artinya aku dibanding almarhum Munir, Cak Nur, dan pejuang-pejuang kebenaran lainnya. Aku hanya bisa membaca kisah perjalanan dan berdecak kagum untuk beliau-beliau itu. Kalaupun aku sekarang berada di barisan yang dari pojok manapun terlihat ekstrim, semata hanya karena rasa maluku pada anak-anakku. Ya. Rasa malu apabila aku menjadi bagian penerus dari ketidakbenaran dan ketidakadilan yang sedang terjadi di sekolah anakku. Sementara aku sang ibu mengajarkan moral berucap dan bertingkah benar. Layaknyalah dengan keterbatasanku aku menjadi teladan bagi mereka.

 

Untuk anakku yang memerhati,

 

Saat perjalanan ini dimulai dua bulan lalu,

kami berbanyak. Beramai.

Perlahan-lahan barisan itu susut. Satu persatu bagian barisan copot dari utuh.

Namun kami tak berhenti. Mata kami tetap awas.

Tangan kami tetap bekerja dan otak kami meruntun taktis rencana demi rencana.

Nurani kami semangat kami.

 

Kalau sekarang ibumu terus mencari peluang dimana perjuangan ini dapat menyelinap, bukan karena aku ekstrimis.

Kalau sekarang ibumu rajin membolak balik lembaran Undang-Undang Pendidikan Nasional, bukan karena aku ekstrimis.

Kalau sekarang bahkan Undang-Undang Perlindungan Konsumen jadi pertimbanganku, bukan karena aku ekstrimis.

Kalau sekarang pemberitaan pendidikan negeri ini di rubrik humaniora harian nasional jadi makananku tiap hari, bukan karena aku ekstrimis.

Kalau ibumu yang diam tapi berpikir strategis di sela riuh kicaumu, bukan karena aku ekstrimis.

Kalau ibumu bersedia mewakili orangtua teman-temanmu, bukan karena aku ekstrimis.

 

Aku peduli.

Pada kepincangan-kepincangan di sekolahmu.

Kepincangan yang sarat letupan kecil. Terakumulasi.

Kepincangan yang siap meledak bagaikan bom waktu.

Tinggal eksekusi oleh siapa.

Untuk itu semua aku tidak perlu label, sayang.

Tuturmu tetap "Dia Ibuku." Cukup menyejukkan dan menguatkan hati.

 

Percayalah Nak,

Semua karena rasa bersalah yang tak akan habis

apabila aku tidak melakukannya sekarang, saat-saat ini.

Saat-saat aku menunggumu menjadi dewasa.

Saat-saat aku harus menemanimu

Saat-saat aku harus menuntunmu

Saat-saat aku harus memperkenalkanmu

dengan nilai dan semangat memperjuangkan kebenaran dan keadilan.

Kalaupun sedikit yang dapat kau ingat tentangku nanti,

kuharap dewasamu selalu pada jalur kebenaran.

 

Nuranimu adalah matamu.

Waktu dewasamu akan membuatmu mengerti apa yang kutuliskan ini.

Berbeda dan berjuang, bukanlah ekstrim, sayangku...

 

Anekdot kecil yang kudapat saat rapat terakhir dari sesama orangtua:

"Alhamdulillah, kondisi sekarang sulit dan keuangan saya tidak terlalu bagus, jadi saya masih bisa berpikir rasional."

Fiuhh...that bad, huh..

 

Jurnal terkait: (silakan click judul)

The School Must Go On: Bincang yang Pincang-Pincang

The School Must Go On: Episode Mengisi Petisi

 

"Whenever you find yourself on the side of the majority, it's time to pause and reflect."

- Mark Twain

Foto: Gambar terbaik hingga saat ini bersama Vian & Darren



39 CommentsChronological   Reverse   Threaded
oetjipop wrote on Sep 19, '05
.. terharu nih Mbak bacanya...
Apapun cap buat seorg ibu.. tetep ibu yg baik buat anaknya...
Pokoke maju terus Mbak demi kebenaran n keadilan.... doaku untukmu..
ctimel wrote on Sep 19, '05
biarkan saja mereka bilang apa, tak selamanya kita harus mendengar apa yang diucapkan. Yang selamanya adalah mendengarkan hati nurani
bundazidansyifa wrote on Sep 19, '05
mbak wandaaaaa..
aku kangen banget niiiiiiiiih...
sapucin wrote on Sep 19, '05
Apapun cap buat seorg ibu.. tetep ibu yg baik buat anaknya...
setuju... biar bagaimanapun ibu adalah seorang yg hebat.. istimewa... :)

doa saya buat semua ibu di dunia.. :)
ardhanamesvari wrote on Sep 19, '05
wehaz said
Layaknyalah dengan keterbatasanku aku menjadi teladan bagi mereka.
betul mbak!!! Kita kan guru utama buat anak kita...
*sambil manggut2 krn baru ngeh masalah-nya sth baca 2 jurnal sebelumnya*
keep on fighting mbakyu!!!!
ezrakarundeng wrote on Sep 19, '05
wehaz said
Dari pojok manapun manusia berdiri, pojokan lain akan menjadi ekstrim.
Karena mbak Wanda ada di pojokan lain itu makanya mbak Wanda dibilang ekstrimis hehehehe
Quote yang dari Mark Twain itu juga favorite saya. Dan emang nggak gampang ya jadi orang yang nggak ikut mayoritas. Rasanya cuma orang-orang berkarakter kuat yang bisa berani melawan arus. Ya kayaq mbak Wanda ini. Cieeee menghibur nih ceritanya!

Anywaaaaaaaay, TETAP SEMANGAT YA MBAK WANDA!!!!
brawijaya2 wrote on Sep 19, '05
Mbak Wanda, tetap persistent ya!! Saya support dari sini. Salam sayang, ibunya Rania & Adam.
familiedyka wrote on Sep 19, '05
mbak wanda, aku dukung sekali dari sini mbak :)..untuk menegakkan kebenaran memang ndak mudah mbak...biarkan saja nada nada miring, yang mengetahui apa yang ada di hati kan hanya Dia :)..keep fighting ya mbak..doaku dari sini selalu...
mamieksyamil wrote on Sep 19, '05
Pokoknya maju terus pantang mundur, Mbak! Suatu saat nanti Vian akan bercerita tentang hal ini dengan bangganya :)...,"Mamaku pejuang kebenaran dan keadilan".
thiaddcal wrote on Sep 19, '05
wehaz said
Sementara aku sang ibu mengajarkan moral berucap dan bertingkah benar. Layaknyalah dengan keterbatasanku aku menjadi teladan bagi mereka.
Setuju!!!!..kata-katanya bagus & benar sekali..

btw.. Wanda.., fotonya bagus banget deh..
ummiss wrote on Sep 19, '05
Keep fighting Wanda.... Aku cuma bisa bantu do'a. Lebih baik dibilang ektrimis dari pada munafik pada hati nurani.... *dunia... kenapa orang baik2 selalu kelihatan aneh akhir2 ini...*
liza1205 wrote on Sep 19, '05
setuju banget Wanda ... siapa lagi yang memperjuangkan buat kebaikan anak-anak kalo bukan kita ortu-nya ...
dafira wrote on Sep 19, '05
siapa lagi yang memperjuangkan buat kebaikan anak-anak kalo bukan kita ortu-nya ...
Setuju juga. Doa aku buat perjuangan mba Wanda dan teman-teman.
herwina wrote on Sep 20, '05
Maju terus Mba Wanda...pejuang keadilan...
mindalibaert wrote on Sep 20, '05
Maju terus mba Wanda, teguh dalam memerangi ketidak adilan....
wehaz wrote on Sep 20, '05
.. terharu nih Mbak bacanya...
Apapun cap buat seorg ibu.. tetep ibu yg baik buat anaknya...
Pokoke maju terus Mbak demi kebenaran n keadilan.... doaku untukmu..
Terimakasih Uci.
Aku juga terharu sama dukungan teman2 semua nih.
tetap semangat, supaya berhasil..berhasil..berhasil... horeee!! :))
*dora banget..:))
wehaz wrote on Sep 20, '05
sapucin said
doa saya buat semua ibu di dunia.. :)
meng-aminkan....
wehaz wrote on Sep 20, '05
ctimel said
tak selamanya kita harus mendengar apa yang diucapkan. Yang selamanya adalah mendengarkan hati nurani
bagus banget Tim. Thanks ya.
Aku juga rasain kok, selama kita menggunakan hati nurani sebagai indra, sepertinya perasaan2 khawatir, takut dsb bisa dikesampingkan dulu :)) Kapan2 sih bisa balik lagi, namanya juga manusia, hehe..
wehaz wrote on Sep 20, '05
haiiiiiiiiiiiiii Bunda Inong...
gitu ya pindah ke Sing gak laporan.. :))
wehaz wrote on Sep 20, '05, edited on Sep 20, '05
Karena mbak Wanda ada di pojokan lain itu makanya mbak Wanda dibilang ekstrimis hehehehe
Quote yang dari Mark Twain itu juga favorite saya. Dan emang nggak gampang ya jadi orang yang nggak ikut mayoritas. Rasanya cuma orang-orang berkarakter kuat yang bisa berani melawan arus. Ya kayaq mbak Wanda ini. Cieeee menghibur nih ceritanya!
Makasih Yul. aku juga bingung. statement ekstrimis justru keluar dari sesama orangtua. Entahlah mungkin mereka kan punya pertimbangan lain. Akhirnya kita mengalah, oke kami berjalan untuk diri sendiri, tapi kalau di ujung ada hasil baik, itu untuk semua juga. Gimanapun, aku tetap percaya pada proses. Tidak ada yg instan. Kalo mau instan, bikin mie aja..:))

hehe.. maksudnya karakter kuat, keras kepala ya Yul..:))
Comment deleted at the request of the author.
Comment deleted at the request of the author.
wehaz wrote on Sep 20, '05
*sambil manggut2 krn baru ngeh masalah-nya sth baca 2 jurnal sebelumnya*
keep on fighting mbakyu!!!!
makasih Wiwit. hehe..jadi ada PRnya ya.
ini namanya jurnal three in one..:))
wehaz wrote on Sep 20, '05
Pokoknya maju terus pantang mundur, Mbak! Suatu saat nanti Vian akan bercerita tentang hal ini dengan bangganya :)...,"Mamaku pejuang kebenaran dan keadilan".
Makasih Mbak Mamiek. Kangen banget niihh..:))
wah.. pake label pejuang kok ya risih juga ya Mbak.
gimana kalo 'mamaku ya mamaku..:D
hehe..banyak maunya nih..

wehaz wrote on Sep 20, '05
mbak wanda, aku dukung sekali dari sini mbak :)..untuk menegakkan kebenaran memang ndak mudah mbak...biarkan saja nada nada miring, yang mengetahui apa yang ada di hati kan hanya Dia :)..keep fighting ya mbak..doaku dari sini selalu...
Betul In. Niat kita lurus, tapi jalan yang harus ditempuh tetap belok-belok.
Makasih dukungannya ya..:)
wehaz wrote on Sep 20, '05
Mbak Wanda, tetap persistent ya!! Saya support dari sini. Salam sayang, ibunya Rania & Adam.
Makasih Evi. I will. Semuanya berawal dari tanggungjawab moral aja ke anak2. Malu kalo ngajarin yg baik2, tapi akunya gak coba jadi teladan. Prihatin kalau justru dari sekolah mereka belajar bukan nilai "kebenaran" tapi nilai "ketidakbenaran". Meskipun sekarang mereka blom ngerti urusan, dan emang gak perlu tau ya..
Vian taunya mama pergi rapat, telpon sana sini.. hehe.. :))
sok sibuk banget mama..:p
wehaz wrote on Sep 20, '05
Wanda.., fotonya bagus banget deh..
hehe..ini emang foto andalan, Tia.
Satu2nya foto bertiga yang berhasil sampai saat ini :))
kebanyakan sih bubar jalan....:D
wehaz wrote on Sep 20, '05
ummiss said
Aku cuma bisa bantu do'a.
Itu justru bantuan besar, Dian. Makasih banyak.
Blom tau juga ini akan sampai kapan, dan akan berujung di mana.
Yang pasti dukungan teman2 di MP ini jadi bahan bakar juga buat kami.
wehaz wrote on Sep 20, '05
siapa lagi yang memperjuangkan buat kebaikan anak-anak kalo bukan kita ortu-nya ...
dan kalau gak berbuat, jadi malu dan merasa bersalah sama anak2...
wehaz wrote on Sep 20, '05
herwina said
Maju terus Mba Wanda...
Makasih buat Farida dan Henny. Dukungannya bikin tambah semangat.
Kemaren agak masygul juga dengan label ekstrimis. wong aku gak mau berpolitik kok. Aku cuma emak yang berusaha kritis sama apa yg berlangsung, dengan kapasitas dan keterbatasan kita.
wehaz wrote on Sep 20, '05
Maju terus mba Wanda, teguh dalam memerangi ketidak adilan....
Terimakasih banyak. Jadi terharu banyak dukungan dari teman2.
Do'akan selalu ya Minda...:))
Due date kapan nih?
shantidewi wrote on Sep 20, '05
wehaz said
Satu persatu bagian barisan copot dari utuh.

Namun kami tak berhenti.
Mba Wanda sayang, doaku menyertaimu ... !
dheafernandez wrote on Sep 21, '05
Don't give up hope Jeng Wanda............biarpun kata orang apa kalau Jeng Wanda berjuang untuk yang benar akan memberikan contoh teladan dan kebanggaan pada sang putra juga. Aku dukung do'a dan support dari sininya.
mindalibaert wrote on Sep 21, '05
wehaz said
Terimakasih banyak. Jadi terharu banyak dukungan dari teman2.
Do'akan selalu ya Minda...:))
Due date kapan nih?
Insya Allah minggu depan nih mba Wanda. Mohon do'a nya ya.
wehaz wrote on Sep 21, '05
Mba Wanda sayang, doaku menyertaimu ... !
makasih Shanti. Semoga gak kejadian di sekolah Axel nanti ya..
kalopun ada, aku bersedia di-hire..hehehe....:))
wehaz wrote on Sep 21, '05
Don't give up hope Jeng Wanda
makasih Dhea. iya bisa optimis justru karena modalnya 'hope' juga..:))
wehaz wrote on Sep 21, '05
Insya Allah minggu depan nih mba Wanda. Mohon do'a nya ya.
pasti. semoga persalinannya nanti lancar. Ibu dan bayi kecilnya sehat.
kabar-kabari kita ya Minda
lelakibiasa wrote on Sep 22, '05
ummiss said
Keep fighting Wanda.... Aku cuma bisa bantu do'a. Lebih baik dibilang ektrimis dari pada munafik pada hati nurani.... *dunia... kenapa orang baik2 selalu kelihatan aneh akhir2 ini...*
setuju
terus berjuang untuk dunia pendidikan demi anak2 dan penerus bangsa mbak :)
wehaz wrote on Sep 25, '05
setuju
terus berjuang untuk dunia pendidikan demi anak2 dan penerus bangsa mbak :)
makasih Fahrul. serba sedikit dan hanya dalam lingkup kecil kok. Tapi ya itu yg kepikiran, anak2 dan penerus bangsa..
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Template design - Copyright © 2005 Sam Royama All rights reserved.