
Semalam, tepat jam sembilan saya terima SMSnya: “Naskah sudah dikirim via email. Salam.” Bapak ini sedang berlibur di Amsterdam bersama keluarganya. Dengan setelan nyengir kuda saya balas SMS beliau sembari mengucap terimakasih banyak. Bergegas membuka email saya, dan mendapatkan sebuah file yang saya tunggu-tunggu selama dua minggu. Lebih dari yang saya harapkan, tetapi sangat melegakan. Saya masih berbalas beberapa SMS dengan beliau. Hingga akhirnya saya tutup dengan “Maaf merepotkan, Pak Bondan. Terimakasih banyak.”Setelah itu saya tuntaskan tugas mengirimkan file tersebut ke penerbit. Lalu, saya berangkat tidur.
Pagi ini, saya bangun seperti biasa. Suami dan anak-anak masih terlelap. Pikiran saya kembali pada soal buku Almarhumah Bunda Inong. Ternyata memori itu begitu kuat sehingga pagi saya ini dihiasi oleh kilas balik perjalanan penyusunan buku Bunda.
Tentu saja ini tak akan terwujud jika pada saat hidupnya Bunda tidak pernah bermimpi untuk membukukan resep-resep masakan beliau. Berbekal semangat mimpinya itulah saya dan teman-teman membulatkan tekad untuk menyusun kembali semua yang beliau tinggalkan. Bukanlah sebuah perjalanan yang mulus, namun dengan komitmen cinta, segalanya seperti dimudahkan.
Pikiran saya memang sedang dipenuhi segala sesuatu tentang buku Almarhumah Bunda Inong. Aktifitas saya semalam berbalas SMS dengan Bondan Winarno, si bapak Maknyuuss , dan mengirim sebuah file ke penerbit, seperti sebuah puncak dari segala semangat, dan ketegangan di hari-hari akhir buku ini akan naik cetak.
Pagi ini, di tengah kesibukan saya di dapur mempersiapkan sarapan dan bekal untuk suami, tiba-tiba sebuah perasaan aneh menghampiri saya. Saya terharu , tak terasa mata saya basah. Duh sebetulnya saya gengsi bilang kalau saya menangis. Hiks.. Kesibukan pagi seperti ini, pastilah juga dilakukan Bunda semasa hidup di dapurnya. Dapur Bunda yang menginspirasi banyak orang.
Terus dan terus perasaan haru ini menyelimuti saya. Seperti pada awalnya, dua tahun yang lalu saat Bunda berpulang. Hingga akhirnya saya harus duduk diam, membacakan doa buat almarhumah dan berbisik “Hampir selesai, Inong. Sedikiiiiit lagi ya.......” Amin…
Foto: Bunga Mataharinya Neng yang baru posting "Kangen Kamu" di MPnya kemarin..
Every beginning is a consequence - every beginning ends some thing. -Paul Ambroise Valery