Blog EntryMoney, Money It is not Valid for Us!!Jun 19, '05 5:22 PM
for everyone

Rasanya kalimat judul tadi sudah cukup ngelotok di kepalaku dan suami sebulan belakangan. Bahkan Darren si bungsu pun sudah hafal dengan kalimat tadi. “Mani…mani…kjgffguerycnxvx,….fo as”, begitu beonya setiap mendengar kalimat yang keluar dari mulut kakaknya itu. Ini tidak ada hubungannya dengan pekerjaan dan bisnis, bukan juga peribahasa, lagu, apalagi potongan kutipan kata-kata orang terkenal.

 

Adalah Vian yang rajin menyuarakan kalimat tadi dengan lantang, sambil main game di computer, ngemil kerupuk, atau ritual ‘nongkrong’ di toiletnya. Hmm..berlatih cukup keras juga dia untuk pementasan pertamanya di sekolah dasar ini. Potongan kalimat yang kedengaran seperti ucapan pejabat yang tidak terima uang sogok itu, adalah satu-satunya dialog yang harus diucapkan Vian dalam perannya sebagai Yuyu Kangkang di The Story of Ande-Ande Lumut, penampilan kelas satu pada acara Pentas Akhir Tahun.

 

Aku ingat saat pertama dia membawa potongan kertas putih berisi satu rangkaian kalimat tadi. Dengan bangganya dia tunjukkan dialog bagiannya itu. “Wah, hebat ya, Mas. Kamu bisa dapet peran,” pujiku sambil menahan geli. Pasalnya, saat itu juga dia mulai meneriakkan falsafah Yuyu Kangkang itu ke seantero rumah.

 

Aku pikir, karena hanya satu kalimat yang harus diucapkannya, Vian perlu sungguh-sungguh berlatih, agar karakternya bisa muncul di antara karakter-karakter lain. Mulailah aku melatih dia soal pengucapan, intonasi, dan aktingnya. Sepertinya dia memang bersemangat untuk pementasan kali ini. Dalam waktu tidak terlalu lama, dia muncul sebagai Yuyu Kangkang, kepiting preman sungai, yang bersungut-sungut menolak dibayar dengan uang untuk menyeberangkan rombongan gadis Kleting. Dalam ceritanya, Yuyu ini minta dibayar dengan ciuman oleh Kleting.

 

Aku pernah dengar bocoran dari guru, bahwa penampilan Vian bisa jadi inspirasi dan penyemangat bagi pemeran-pemeran lainnya. Penasaran juga jadinya. Saat gladi resik, aku coba intip latihan mereka. Sejak awal mulai memang berjalan sederhana, cenderung tenang menurutku. Dialog yang tercipta sangat  datar dan monoton. Sampai saat aku sedang lengah, justru suara lantang yang sudah sangat aku kenal itu membawa kepalaku menoleh dan mataku kembali ke arena latihan. Astagaaa..memang betul ternyata bocoran gurunya. Jangankan aku sampai menoleh. Dengan gayanya tadi, seluruh sekolah pasti akan mencari sumber suara yang ngomel-ngomel itu.

 

“Ma, Vian suara dan aktingnya nya paling oke deh”, lapornya padaku setelah selesai gladi resik. Sambil pura-pura serius, aku jawab “Iya, harus tetap begitu ya sampai besok di panggung,” ujarku tanpa emosi. Aku jadi teringat kisah seorang teman baik, soal anaknya yang pada saat hari pementasan justru demam dan mogok naik panggung. Ah..aku bahkan gak berani membayangkannya. Buru-buru aku usir pikiran itu dari kepalaku. Hush…!!!!!

 

Selain Vian sibuk berlatih, aku juga sibuk mencari kostum yang pas untuk pentas anak-anak ini. Entah bagaimana ceritanya, sehingga aku tidak bisa ngeles saat ditunjuk hidung untuk jadi koordinator kostum. Geli juga, padahal aku paling hebat urusan jurus tunjuk hidung. Tapi untuk jurus ngelesnya memang masih perlu banyak latihan lagi ternyata. Bersama beberapa teman, kami coba merumuskan kostum yang tepat buat anak-anak. Selain harus sesuai dengan peran masing-masing, kostum harus disesuaikan dengan lokasi pementasan dan dibuat senyaman mungkin. Hal penting lain adalah kostumnya harus membuat anak makin percaya diri naik panggung.

 

Kesana kemari, dengar sana sini, akhirnya diputuskan untuk menjahit baju ketujuh Kleting dan dua Bunda. Merah, biru, hijau, pink, ungu, abu-abu (memang ada ya? maksa nih gurunya), dan kuning adalah wana-warna Kleting yang harus dipersiapkan. Bunga besar untuk rambut dan selendang jadi property Kleting. Sementara bagi Ande-ande Lumut dan Yuyu Kangkang, kostumnya disewa. Mubazir kalau harus jahit. Kostum itu nantinya tidak bisa terpakai lagi. Berjodoh dengan Sanggar Sangrila pimpinan keluarga Tanzil. Mereka ternyata pernah mengadakan operet Ande-Ande Lumut. Salut buat keluarga ini, Sanggarnya bisa tetap eksis sampai sekarang.

 

H minus satu, fitting kostum anak-anak. Agak deg-degan, khawatir kalau kostum sewanya tidak pas. Tapi setelah dipakai satu persatu, aku bisa bernafas lega, sekaligus geli. Vian dan teman-temannya sudah seperti lepet pakai kostum Yuyu Kangkang yang kepiting itu. Untungnya lagi mereka ternyata bangga pakai kostum Yuyu.

 

Singkat cerita, Sabtu, May 18, 2005 pementasan di Bintaro Trade Center (BTC) itu berlangsung sukses. Gerak dan lagu Ande-Ande Lumut dari kelas satu ditutup dengan lagu Auld Lang Syne dan taburan confeti yang menyemarakkan panggung. Kebiasaanku untuk “minta lima” (tozz) pada Vian dan Darren, sampai kulakukan juga pada teman-temannya. Mereka semua hebat.

 

Kenapa? Ada yang terlewat? Oya, cerita Vian di panggung? Kalau aku yang bilang bahwa dia paling oke, pasti orang-orang akan nyaut, “jelas aja itu kan ibunya yang ngomong.” Tapi ou em ji, pi di ae (omg, pda) baca: o..my God, please dong ah…..., aku terharu sekali saat ucapan salut untuk Vian justru ditujukan orang-orang kepadaku, Ibundanya. Kalau sedang main bola, pasti pujian itu sudah aku lempar lagi pada Vian “Bukan, tujukan ini pada Vian!” "Ayo Vian, tangkap!!" Dia yang layak mendapat ucapan salut, tepukan di bahu dan acungan jempol.

 

“Ma, tadi Vian suaranya paling keras dan ngagetin satu mall,” ceritanya saat mobil kami mulai bergerak meninggalkan BTC. Aku cuma tersenyum dan menjawab singkat “Iya.” Padahal dalam hati aku ngoceh “Panggung yang berada di tengah-tengah mall itu adalah pengantar suara yang baik untuk kelantanganmu menyuarakan “Money..money it is not valid for us!” Benar sayang, ini bukan soal uang. Tapi soal keuletan, kegigihan berlatih, dan percaya diri yang semakin tumbuh subur dalam dirimu. Pelihara terus dalam perjuanganmu, harapku menutup ocehan dalam hati.

 

Courage must come from the soul within,
The man must furnish the will to win.
So figure it out for yourself, my lad.
You were born with all that the great have had,
With your equipment they all began,
Get hold of yourself and say: "I can."
(Recited by Dr. George Washington Carver during his commencement address at Selma University, Selma Alabama on May 27, 1942)

 
-Edgar A. Guest, from the poem "Equipment"

 



brawijaya2 wrote on Jun 19, '05
Vian lucu banget sih, mbak. Selamat ya Vian juga untuk ibunya yang lagi sibuk dengan kostumnya. Great costume, mbak!!
wehaz wrote on Jun 19, '05
Makasih ya Vi. Itu Vian sampai pasang badan terus dimana ada fotografer. Kalo mamanya, setelah selesai semua baru mikir ternyata fun juga "main" kostum. Sebelumnya sih ribetthh ..:-)
mamieksyamil wrote on Jun 19, '05
Two-thumbs up!
dafira wrote on Jun 19, '05
Vian ... Vian ... lucu amat sih kamu, jadi ketawa sendiri bacanya kebayang acaranya, pasti heboh banget ... terus Vian buat Mama bangga ya ... Salam dari adek Shally ya ...
ayraalby wrote on Jun 20, '05
duhh, salut deh buat Vian dan Mamanya.., tapi asli niii..aku ketawa pas kamu cerita kalau Vian dtt (dan teman2nya) jadi kayak lepet dipakein kostum.., hiii..jadi inget waktu ayra mentas kemarin.., dia jg kayak lepet dgn kostum kepompongnya...,
salam buat si 'money, money it is not valid for us!! :)
wehaz wrote on Jun 20, '05
dafira said
Salam dari adek Shally ya ...
Salam balik katanya. Nanti juga giliran Shally bikin gemes mama - papanya.:)
wehaz wrote on Jun 20, '05
jadi kayak lepet dipakein kostum..,
Kostum sekarang lucu2 memang ya. Jaman dulu belom ada yang sekreatif sekarang. Bahannya juga nyaman buat anak2. Jadi mereka ya PD aja.
juliavantiel wrote on Jun 21, '05
gimana caranya bikin kostumnya tuh ?
wehaz wrote on Jun 21, '05
Percaya gak Mbak? Tadinya aku mau nekat desain dan jaitin sendiri kostumnya. Nah kalo bikinan sendiri harusnya merah. Berhubung 'gak terlalu berani nekat' dengan waktu pas-pasan, ketemu pula ada yg sewain. Jadi tinggal jebluuss pake..:-)

Yg didesain dan dijaitin paling buat anak2 perempuannya
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Template design - Copyright © 2005 Sam Royama All rights reserved.