Suatu saat, ehmm..setiap hari sebetulnya, pemandangan yang sama selalu melintas di depan saya sambil menunggu Vian keluar sekolah. Dari dalam mobil di tempat parkir, saya pasti menangkap seliweran murid, supir pribadi, mbak-mbak Asisten Rumah Tangga (ART), guru, cleaning service dan satpam.
Satu di antara banyak hal yang sempat menggelitik pikir saya, adalah pemandangan antara anak-anak dan supir pribadi atau mbaknya. Cukup banyak juga anak-anak yang dijemput tidak oleh orangtuanya, seperti anak-anak saya, yang saya antar jemput setiap harinya. Hal ini bisa saya maklumi. Mungkin saja kedua orangtuanya adalah pekerja kantor, pengusaha, atau ada halangan lain untuk dapat menjemput anak di sekolah. Jadilah tugas antar jemput didelegasikan pada supir pribadi atau ART.
Sampai di sini, saya hanya berpikir betapa bahagianya saya punya kesempatan untuk ‘melayani’ anak-anak saya. Semoga juga mereka bisa berbahagia dengan kesempatan diantar-jemput mamanya setiap hari. Hehe..mumpung masih TK dan SD, jadi belum (begitu) malu dikatain anak mama. Ah..tapi kalau memndengar berita baru-baru ini ada anak SMP diculik, duh..jadi gentar juga melepas mereka nantinya.
Kembali ke soal melayani anak-anak. Saya dengan sukacita melakukan tugas saya mengantar jemput sekolah setiap hari. Kami tidak punya supir pribadi, anak-anakpun tidak naik antar jemput sekolah. Jadi mereka memerlukan (atau memang kami, orangtuanya yang menciptakan keperluan itu), seseorang untuk mengantar jemput mereka di sekolah.
Kalau orangtua tidak bisa, supir pribadi atau ART yang melakukannya. Sampai batas mana supir pribadi atau ART melayani anak-anak ini? Untuk siswa SD, saya pikir ya sebatas mereka mengantar , menjemput, ke dan dari sekolah dengan aman dan selamat. Namun ada pemandangan yang acap saya lihat saat anak-anak pulang sekolah dan bertemu dengan penjemputnya. Tas sekolah dan semua barang bawaan langsung diserahkan kepada penjemput, dan anak-anak ini melenggang kangkung ke kendaraan yang akan membawa mereka pulang. Kalau mungkin anak-anak ini kerepotan karena barang bawaan yang banyak, mungkin mereka perlu dibantu sekedarnya, dan bukan semua langsung bruk pada “pelayannya”. Tanpa panjang lebar lagi, karena memang sudah panjang ocehan saya, saya hanya ingin bilang “Kecil-kecil ngeboss ni yee….”
Kalau dibilang hidup adalah pilihan, saya memilih anak-anak saya untuk tidak dilayani demikian. Tas dan bawaan sekolah adalah tanggungjawab mereka. Apalagi untuk anak-anak yang sudah duduk di sekolah dasar. Kalau hidup adalah pilihan, saya memilih melayani anak-anak saya sebatas apa yang selayaknya saya lakukan. Meskipun belum seratus persen bisa saya lakukan. Karena naluri buat melayani anak suka membludak juga. Saya masih suka jatuh iba melihat Vian badannya penuh gelantungan barang bawaan. Tapi saya tega-tegain aja, kalau itu semua masih bisa ditanganinya sendiri. Hehe… Seandainya saya tidak punya pilihan lain, dan harus mendelegasikan tugas antar jemput sekolah ke supir atau ART, saya tetap memilih anak-anak harus membawa tasnya sendiri. Kalau hidup adalah pilihan, saya memilih menerapkan ini sedini mungkin. Mumpung masih bisa. Bossnya si supir dan ART kan orangtuanya, bukan anaknya. Hidup toh belum tentu bisa bersenang-senang dahulu, bersenang-senang kemudian. Ini pilihan saya. Tolong ingatkan, kalau saya nanti (sempat) lupa.
"Don't judge each day by the harvest you reap but by the seeds that you plant."
-Robert Louis Stevenson
Foto: Boss kecil naik becak :)